PENGAWET ALAMI

Dewasa ini, dunia banyak diguncangkan dengan bahan-bahan pengawet buatan yang sering digunakan oleh pabrikan-pabrikan makanan. Pabrikan makanan tersebut menggunakan sebuah pengawet buatan seperti Boraks, Formalin, Natrium Benzoat,dsb.
Bahan-bahan berbahaya tersebut digunakan dengan maksud meminimalisir pengeluaran dan memaksimalkan pemasukan. Orang menjadi takut untuk mengkonsumsi makanan-makanan yang mengandung bahan-bahan diatas. Setelah berkurangnya konsumen, perusahaan pengolahan makanan kemudian beralih kepada segala sesuatu yang bersifat alami(natural). Cara pengolahan, bahan baku,hingga bahan pengawetan berasal dari alam hingga suatu produk tersebut berlisensikan alami.
Tetapi sebenarnya, bahan-bahan alami tersebut tidak selamanya aman. Bahkan beberapa jenis makanan seperti dalam jamur pangan, mengandung suatu senyawa karsinogenik yang dapat menyebabkan kangker. Bukan hanya jamur pangan saja, bahkan makanan yang umum dikonsumsi oleh masyarakat Indonesiapun mengandung suatu zat yang tidak kalah bahayanya. Misal: pada seledri terdapat psoralens, daun teh mengandung phyrolizidin alkaloids, glikoalkaloid pada kentang, glukalsinolat yang dapat ditemukan pada sayuran, dan racun biru atau HCN yang terdapat dalan tumbuhan singkong. Semua bahan pengawet makanan tersebut berpotensi membunuh manusia.
Dengan begini, telah terbukti bahwa masakan alami pun tidak luput dari resiko. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, Bahan makanan di bumi pasti memiliki resiko (zero risk). Lalu, bagaimana caranya agar kita dapat mencegah pemasukan racun dari makanan? Jawabannya adalah dengan selektif memilih bahan pengawet makanan yang aman bagi tubuh.
Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam memilih dan menggunakan bahan pengawet adalah: pertama, kita dapat melihat dari sifat kimia dan antimikrobia dari bahan pengawet tersebut. kedua, kita dapat mencermati sifat dan komposisi makanan yang akan diawetkan. ketiga, kita harus memperhatikan jenis dan level mikroorganisme yang terdapat dalam makanan. Dan yang pasti setiap bahan pengawet yang kita gunakan harus aman dan bebas dari senyawa yang merugikan tubuh.
Bahan pengawet pada saat ini ada yang sama sekali tidak boleh digunakan dan ada pula yang boleh digunakan asalkan sesuai dengan takaran dan ukuran tertentu. Berikut adalah bahan pengawet makanan yang sering digunakan. Pertama, asam-asam organik yang ditemukan dalam makanan. kedua, benzoat(bentuk garam kalsium, dan sodium) digunakan untuk mencegah ragi dan bakteri pada makanan yang berupa selai, minuman, pikel, kecap, dan margarin. Ketiga, Asam asorbat dan garam larutannya telah digunakan untuk pengawetan makanan sejak dahulu. Berbagai jenis bahan makanan tersebut dapat digunakan dan dipilih dalam proses pengawetan makanan.
Untuk lebih jelas dalam pencegahan keracunan dalam masyarakat ataupun keluarga kita dapat melihat dari peraturan menteri kesehatan RI No.722/Menkes/Per/IX/1998, tercantum batas maksimum penggunaan berbagai bahan pengawet yang digunakan dalam proses produksi berbagai jenis makanan. Oleh karena itu kita harus bijaksana dalam penggunaan bahan pengawet makanan. jika sebagai produsen, kita jangan menggunakan bahan pengawet yang dilarang ataupun dalam jumlah yang berlebihan. Sedangkan sebagai konsumen kita juga harus bijak dalam memilih makanan, bukan hanya berdasarkan rasa tetapi juga kebersihan dan cara pengolahan makanan. penggunaan bahan pengawet pada dasarnya memang harus terus menerus diawasi karena pemakaian yang berubah-ubah dapat menimbulkan perubahan pada bahan pengawet sehingga menjadi berbahaya.

SUMBER: http://forum.kafegaul.com/showthread.php?t=143965&page=2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: